Terbukti Pencemaran Limbah Pabrik Limbah Karet Akan Ditutup

ilustrasi

ilustrasi

FAJARSUMATERA - Menyikapi keluhan warga terkait tidak adanya instalasi penanggulangan air limbah (Ipal) dalam lingkungan usaha mengelolaan limbah karet yang sudah empat tahun beroperasi di Desa Sidosasi Dusun Sumberingin Kecamatan Natar Lampung Selatan (Lamsel), Tim Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) dalam waktu dekat akan sambangi pabrik pengelola limbah karet yang diduga melakukan pencemaran lingkungan.

Kepala Bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum, Sudari mengatakan, pihaknya tidak mengetahui, adanya perusahaan pengelolaan karet untuk wilayah Desa Sidosasi. Bahkan, tidak terdaftar di Kantor BLHD. Oleh sebab itu, pihaknya akan langsung turun ke lokasi, guna melakukan peninjauan sekaligus melakukan pengecekan terkait dengan keberadaan (IPAL) yang dimiliki perusahaan pengelola karet tersebut.

“Tentunya, dalam waktu dekat ini, tim akan turun ke lokasi untuk melakukan pendataan secara real terkait dugaan adanya pencemaran dan keberadaan IPAL nya,” ujarnya ketika ditemui diruang kerjanya, Senin (8/4).

Dia menambahkan, sesuai dengan UU Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan pengelolaan lingkungan hidup dan Peraturan Gubernur Nomor 7 tahun 2010 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/ kegiatan di Provinsi, hal tersebut ditujukan harus adanya pengelolaan air limbah sebelum dilakukan pembuangan

“Harusnya, ada tata cara pengelolaan air limbah ini. Sehingga tidak menjadi limbah,” kata Sundari.

Selain itu, di menekankan, apabila dalam pendataan, ditemukan pihak pengelola karet tersebut tidak memiliki IPAL dan benar adanya menimbulkan pencemaran air limbah ke aliran kali di lingkungan warga. Dirinya menegaskan, akan melakukan penutupan usaha kelola karet serta melakukan penarikan izin lainnya.

“Kalau memang benar tidak ada IPAL, kami akan menutup usaha kelola karet ini, sampai dengan pihak pengelola melengkapi aturannya,” pungkasnya.

Pemberitaan sebelumnya, Tidak adanya instalasi penanggulangan air limbah (Ipal) dalam lingkungan usaha mengelolaan limbah karet yang sudah empat tahun beroperasi di Desa Sidosasi Dusun Sumberingin Kecamatan Natar Lampung Selatan (Lamsel), yang dikeluhkan warga, membuat LSM Lingkar Pemuda Indonesia (LPI), meminta pihak terkait segera menindaklanjutinya.

Pasalnya, akibat pencemaran air limbah yang dibuang langsung ke aliran kali di lingkungan warga dan menimbulkan aroma tak sedap tersebut, membuat air kali menjadi kotor dan tidak dapat digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan perkebunan warga sekitar.

Dikatakan Nasrun CH, Ketua LSM LPI, bahwa limbah yang dibuang langsung ke kali, menimbulkan aroma tak sedap dan limbah karet itu juga menimbulkan endapan dalam kali tersebut.

Selain itu, kondisi jalan kampung juga mengalami kerusakan dikarenakan menjadi perlintasan kendaraan yang bertonase berat keluar masuk usaha limbah karet tersebut.

“Usaha itu sudah empat tahun beroperasi, tapi tidak ada penyulingan air limbahnya. Wajar saja dikeluhkan warga yang biasa menggunakan air kali untuk kebutuhan pertanian di sekitar kali tersebut,” kata Nasrun CH, Sabtu (06/4).

Pada kesempatan sebelumnya, Paryanto, Kepala Desa (Kades) Sidosasi, masih belum bisa memberi komentar dengan alasan baru dua bulan menjabat di Desa tersebut.

Namun, dirinya tidak menapik keluhan warga di wilayahnya terkait pengelolaan limbah karet yang sudah beroperasi lebih empat tahun tersebut. [FS-Dirsah]

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*